Marhaban Dalam Membentuk Kebersamaan Remaja

Kebiasaan pada masa remaja berfikir berdasarkan pengalaman-pengalamannya, maka dikhawatirkan pengalaman yang pernah dialaminya bukan bersumber dari sekolah, tetapi justru berasal dari teman-temannya yang rusak akhlaknya. Karena itu pengawasan tidak hanya terbatas ketika anak berada disekitarnya, tetapi harus tanggap dan teliti terhadap pergaulannya ketika bermain dengan temannya di luar (Mahjuddin, 2000 : 35). Di zaman modern ini, menurunnya kualitas akhlak remaja sudah menggejala di mana-mana, diantaranya adalah dekadensi moral berupa berbagai kejahatan pemerkosaan, perampokan tawuran dan lain-lain. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sering disalahgunakan untuk kejahatan seperti melalui handphone, komputer dan internet. Remaja pada hakikatnya sedang berjuang untuk menemukan dirinya sendiri, jika dihadapkan pada keadaan luar atau lingkungan yang kurang serasi penuh kontradiksi dan labil, maka akan mudahlah meraka jatuh kepada kesengsaraan batin, hidup penuh kecemasan, ketidakpastian dan kebimbangan. Hal ini menyebabkan para remaja Indonesia jatuh pada kelainan-kelainan kelakuan yang membawa bahaya terhadap dirinya sendiri baik sekarang, maupun dikemudian hari.
Untuk mengatasi permasalahan remaja tersebut, dibutuhkan suatu kegiatan atau lembaga pendidikan baik yang dilaksanakan oleh keluarga, instansi pemerintah atau masyarakat yang mampu membina akhlak remaja. Suatu organisasi atau komunitas tentu terbentuk dengan bergabungnya sejumlah individu dari berbagai latar belakang dan kepribadian yang berbeda. Salah satu tantangan dalam menjalankan suatu organisasi adalah mengupayakan agar seluruh anggota organisasi dapat bergerak dan bekerja sebagai suatu kesatuan organisasi secara bersama-sama, tidak dengan mengutamakan kepentingan pribadi, namun kepentingan komunal yang sudah tercantum secara komprehensif dalam visi dan misi organisasi.
Salah satu kegiatan yang dianggap bisa mengatasi masalah akhlak remaja adalah kegiatan pembacaan marhaban atau pembacaan maulid barzanji yang didalamnya berisi tentang sejarah Nabi Muhammad SAW dan akhlak-akhlak beliau terhadap sesama manusia. Diharapkan dengan sering mengikuti kegiatan marhaban, para remaja lebih mencintai Nabi Muhammad sehingga bisa meniru dan mentauladani akhlak beliau. Salah satu tempat yang bisa menumbuhkan kebersamaan diantara remaja adalah majelis taklim. Menurut Mas Acong dan Ustadz Syaein 'Adziem, Majelis Ngopia adalah salah satu lembaga pendidikan agama non formal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya, serta mewujudkan rahmat bagi alam semesta.
Selain itu dengan adanya kegiatan marhaban di majelis Ngopia Masjid Nurul Hidayah, diharapkan terciptanya kebersamaan dan hubungan yang harmonis antara sesama remaja. Di situ mereka akan terbiasa dalam bekerja sama, bertangung jawab, saling menolong dan tidak egois.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kegiatan marhaban dengan kebersamaan remaja. Kegiatan marhaban juga akan menumbuhkan kebersamaan dan mempererat persaudaraan diantara mereka, karena mereka dituntut untuk bekerja sama. Selain itu, kegiatan marhaban merupakan alternatif bagi remaja untuk mengisi waktu luang daripada digunakan untuk hal-hal yang negatif.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iman Kepada Allah

Rukun Islam : Safinatun Najah

Mas Eja Mengikuti Rutinan Marhabanan